Diet untuk obesity bagian I

 

Banyak cara menuju langsing. Salah satunya lewat diet. Ada banyak sekali jenis diet yang bisa diikuti. Salah satunya diet rendah karbohidrat, alias low carbohydrate diet, yang sempat populer beberapa waktu lalu.

Masih disarankankah diet ini, serta apa dampak negatifnya?

Seperti fesyen, diet pun mengenal tren. Beberapa tahun belakangan, muncul istilah fad diet atau diet populer, yang berarti jenis atau cara diet yang sangat laku dijual. Jadi, dalam hal ini masyarakat cenderung mencari sesuatu yang aneh, populer, dan mencobanya. Meski populer, soal kebenaran, pembuktian ilmiah, keamanan, dan penelitiannya, belum membuktikan bahwa diet tersebut baik.

Salah satu fad diet yang sempat jadi tren beberapa waktu silam adalah diet rendah karbohidrat atau low carbohydrate diet (low-carb diet). Diet semacam ini sering disebut diet Atkins karena diperkenalkan oleh seorang ahli nutrisi asal Amerika, Dr. Robert Coleman Atkins, tahun 1970 silam. Uniknya, diet rendah karbohidrat justru populer di tahun 2000-an.

 

TURUN DRASTIS

Menurut ahli nutrisi dari Klinik Nutrifit Jakarta, Dr. Samuel Oetoro, M.S., Sp.GK, diet rendah karbohidrat merupakan diet yang membatasi sumber karbohidrat.

Para penganut diet semacam ini tak mengonsumsi nasi, kentang, roti, dan sumber karbohidrat lainnya. Padahal, karbohidrat merupakan salah satu nutrien penghasil energi, selain protein dan lemak.

Karbohidrat terdiri dari tiga elemen, yaitu karbon, hidrogen, dan oksigen. Setiap gram karbohidrat menghasilkan empat kalori energi. Fungsi karbohidrat tak main-main. Karbohidrat berguna memacu otak dan otot-otot tubuh, serta memasok energi ke berbagai fungsi tubuh seperti alat pernafasan dan jantung.

Karena tak mengonsumsi karbohidrat, para pengikut diet rendah karbohidrat mendapat energi dari makanan yang tinggi protein dan lemak. "Konsekuensinya, mereka meninggikan konsumsi protein. Sumber proteinnya diperoleh dari daging. Padahal kita tahu, daging mengandung lemak. Akibatnya, selain kadar protein dalam tubuh tinggi, lemaknya juga tinggi," jelas Samuel.

Ia menambahkan, "Enaknya diet seperti ini, kenyangnya lebih tahan lama. Karena makanan yang mengandung protein dan lemak akan membuat kita merasa lebih kenyang. Tetapi pendapat itu keliru, karena asupan lemak jadi berlebihan."

Masih menurut Samuel, diet rendah karbohidrat memang awalnya sangat menggembirakan bagi orang-orang yang sedang dalam program penururan berat badan. Menurut penelitian, pada enam bulan pertama, berat badan bisa turun drastis, terutama dalam waktu dua atau tiga bulan pertama. Meski penurunannya pada setiap orang berbeda-beda, dalam enam bulan, berat badan bisa turun sampai 10 kg! Namun, setelah enam bulan, berat badan cenderung turun pelan dan sedikit sekali. Jika akan diturunkan lagi biasanya susah.

Jika dibandingkan diet gizi seimbang dan rendah kalori (artinya tetap ada sumber karbohidrat, protein, dan lemak yang baik dengan jumlah cukup), penurunan pada diet rendah karbohidrat pada enam bulan pertama memang lebih cepat. "Tetapi setelah enam bulan sampai satu tahun, hasilnya sama. Karena kalau diet rendah karbohidrat pernurunannya pelan-pelan, sedangkan diet gizi seimbang masih turun terus. Hasil akhirnya setelah satu tahun, sama," ujarnya.

  

 

should you know

diabetes

diabetes type 2

heart disease

stroke

lung function disease

Arteriosclerosis

Hypertension

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

positive

home

obesity news

obesity risk disease

treatment

tips & suggestion

about us

 

Available articles  for your healthy

5 Positive Habits to treat your overweight

Burn your fat with couple of cups of green tea before exercise

Strategy  for weight loss is in your control

Tretment Diabetes with Weight Loss, Not Drugs

Mengubah Lemak Bawa Harapan Turunkan Obesitas

Available articles  for your healthy

Drinking Water is the Key to Weight Loss

University offers course to fight obesity

PolyTeaNx Weight Loss Tea Extract Capsules

Diet Yang Baik bagian I

Diet Yang Baik bagian II